Ojo Ndableg...Dirumah Saja – antara ODP & PDP - OPINI

BLORAKU.COM - Ojo Ndableg...Dirumah Saja – antara ODP & PDP - OPINI , Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Ojo Ndableg...Dirumah Saja – antara ODP & PDP - OPINI, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Berita, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.



Penulis Drs Ec Agung Budi Rustanto – Pimpinan Redaksi tabloid INFOKU – diolah dari 9 sumber berbeda)
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI tidak menggunakan istilah "suspect corona" bagi orang yang diduga terjangkit virus corona COVID-19. 
Menurut Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan-salah satu RS rujukan kasus virus corona, Rita Rogayah, Kemenkes menggunakan istilah Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP).
"Kita tidak menggunakan istilah suspect, melainkan dengan istilah ODP atau PDP sebab lebih spesifik," katanya di Jakarta, seperti dikutip Antara News.
Rita menjelaskan, yang membedakan antara ODP dan PDP adalah kontak fisik dan riwayat perjalanan mereka, apakah mereka pernah melakukan perjalanan ke negara dengan infeksi coronavirus tinggi atau tidak.
Yang paling membedakan antara ODP dan PDP adalah kontak fisik dengan penderita corona atau yang bersangkutan memiliki history perjalanan ke sejumlah negara terjangkit corona.
PDP dikriteriakan sesuai gejalanya, seperti demam, batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan. Atau dari hasil observasi ada saluran nafas bawah yang terganggu serta terjadi kontak erat dengan penderita positif atau dari yang terjangkit. 
Sementara ODP, kata Rita, biasanya memiliki gejala ringan seperti batuk, sakit tenggorokan, demam, tetapi tidak ada kontak erat dengan penderita positif. 
Khusus pasien ODP bisa dipulangkan tapi sebaiknya isolasi mandiri dirumah saja, ning Omah Wae, ojo Ndableq,  Kalimat asli orang Blora.  
Tetapi bagi pasien PDP kita rawat di ruang isolasi di Rumah sakit yang ditunjuk.
Orang yang dinyatakan masuk kategori PDP akan menjalani proses observasi melalui proses cek laboratorium yang hasilnya akan dilaporkan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI. 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan beberapa gejala awal orang yang terinfeksi virus corona COVID-19, yaitu demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa pasien juga mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan atau diare.
Gejala-gejala ini biasanya ringan dan mulai secara bertahap. Beberapa orang bisa terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala apa pun dan merasa tidak enak badan. Kebanyakan orang (sekitar 80%) pulih dari penyakit tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari setiap 6 orang yang terinfeksi COVID-19 sakit parah dan mengalami kesulitan bernapas.
Terbuka atau Rahasia
Muncul polemik diantara pengambil kebijakan dalam hal publikasi data  beserta identitas ODP. Banyak masyarakat meminta untuk dipublikasi saja data itu agar sedini mungkin bisa menghidari atau menjaga jarak agar kemungkinan tertular bisa dihindari.
Jangan sampai sudah terlanjur positif baru berupaya untuk mengatasi padahal kita sudah terlanjur dekat  berinteraksi dengan mereka yang saat ini masih ODP dan bisa jadi adalah PDP serta selanjutnya menjadi pasien positif.
Namun hal ini tidak semudah yang dibayangkan karena semua ada aturan dalam publikasi data tersebut.
Banyak yang perlu dipikirkan juga, salah satunya adalah privasi pasien. Mereka merasa hak asasinya dilanggar apabila data itu dipublikasi tanpa persetujuan mereka para ODP.
Petugas yang mengangani dan memiliki daftar ODP ini tidak bisa semudah itu mengeluarkan data ke publik. Dikhawatikan malah akan menimbulkan kepanikan bagi masyarakat yang berlebihan.
Banyak pendapat  berkembang di masyarkat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa tidak semudah itu mempublikasikan identitas ODP karena mereka statusnya belum jelas. Orang yang positif saja tidak serta merta langsung diumumkan ke publik.
Tapi sebagian ada juga yang bependapat bahwa bila hal ini masih dirahasikan, maka siapa yang menjamin akan aman seterusnya dan daftar ODP ini tidak bekembang ke status yang lebih parah yakni PDP (Pasien Dalam Pengawasan) atau bahkan menjadi pasien positif covid-19.
Orang penting sekelas Menteri, Walikota, artis dan bahkan dokter yang yang pernah menangani pasien covid-19 pun dengan sigap dan berani mengumumkan bahwa dirinya positif patut diacungi jempol.
Kalau masih tahap ODP, banyak pendapat yang mengatakan sebaiknya dirumah saja dan karantina mandiri dirumahnya.
Demikian juga pada masyarakat umumnya agar mengurangi aktifitas diluar rumah dan tetap dirumah saja agar penyebaran Covid 19 terputus.
Alangkah baiknya menghindari daripada mengobati.
Salam sehat Selalu !


#dirumahsaja
#Bloralawancovid19
#ojondableg



Demikianlah Artikel Ojo Ndableg...Dirumah Saja – antara ODP & PDP - OPINI

mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel dengan alamat
Judul : Ojo Ndableg...Dirumah Saja – antara ODP & PDP - OPINI
link : Ojo Ndableg...Dirumah Saja – antara ODP & PDP - OPINI

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Notification ! {New!} Beberapa artikel di blog ini terkadang berisi informasi dari berbagai macam sumber. Hak cipta berupa gambar, teks, dan link sepenuhnya dimiliki oleh web tersebut.